Hindari Argumen dengan Anak

sat-jakarta.com – Menghadapi seribu satu alasan si prasekolah me mang tak mudah, tetapi kita tetap bisa melakukan sesuatu untuk itu. Perlu diingat, tawar menawar ini adalah bagian dari pembelajaran anak, yang menjadi salah satu kemampuan penting yang per lu diajarkan. Jadi, mari kita lakoni saja tantangan dari si kecil, berbekal tip-tip berikut ini; ? Mulailah dengan kesepakatan, bukan argumen.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di Jakarta

Buatlah kalimat sedemikian rupa, sehingga anak menjawab “ya’” Contoh, anak tidak mau makan sekarang. Setelah merayu tak mempan, cobalah berkata, ”Oh, kamu mau makan sen diri? Boleh, sini duduk sebelah Mama.” Biasanya anak lebih mendengarkan saat kita menawarinya pilihan untuk melakukan sesuatu sendiri. ? Jelaskan apa yang kita inginkan pada anak.

Katakanlah, “Kita harus pulang ke rumah se karang karena Papa harus kerja.” Setelah kita menjelaskan demikian, bersiaplah de ngan respons yang akan dilontarkan anak. Jika ia berujar enggan pulang, katakan saja sekali lagi, “Ayah mau kerja dan adik juga mau tidur siang.” Tatap matanya, sampaikan dengan tegas tapi tenang agar si prasekolah mengerti, bahwa ada orang-orang lain yang juga meng inginkan untuk segera pulang. ? Libatkan anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Berilah dua pilihan, sekali lagi, sam paikan dengan tegas tetapi tenang. Misalnya, saat anak menolak mandi, katakan, “Sekarang Kakak mau mandi sendiri atau dimandikan Mama?” ? Saat harus berkata “tidak”, katakan dengan te gas dan yakin.

Tak perlu berteriak-teriak (kecuali keadaan berbahaya), cukup tatap lang sung mata anak, berlutut agar berdiri sejajar, dan jelaskan mengapa “tidak” dengan yakin. Jelaskan alasan mengapa anak harus melaku kan ini itu, juga alasan mengapa kita berkata “tidak”. Berkata “tidak” bukan berarti agar anak mematuhi semua yang kita inginkan, tetapi kita ingin menunjukkan pada anak bahwa tak semua hal yang ia inginkan harus terpenuhi saat itu juga. Kadang anak akan kesal pada kita, tapi me mang kenyataannya tak semua keinginan anak harus kita ikuti. Keinginan anak itu tak ada habisnya, lo. Justru tugas kitalah untuk meng hentikannya dengan kata “tidak” sesekali. Dia juga harus belajar, bahwa tidak semua keingin annya bisa terpenuhi.

Namun, sesekali biarkan anak “menang”, dengan memilih mana ‘perang’ yang kira-kira co cok untuk ia menangkan. Iyakan penawarannya, tapi tak berarti kita kalah. Misalnya, dalam hal mandi di waktu libur, mungkin kita boleh sedikit memundurkan jamnya. Kita bisa mengambil keputusan, meski anak tak sepakat dengan yang kita inginkan. Pada akhirnya, harus ada seseorang yang menentukan ending-nya bagaimana dari tawar menawar ini.

Sepanjang kita sudah mendengarkan pendapat si kecil, saat pendapatnya itu pun tak sesuai de ngan aturan yang ada, tetaplah berpegang pada aturan. Satu hal yang perlu kita ingat, tawar menawar tidak berarti kita menyerah pada kemauan anak. Tawar menawar berarti anak dan kita sama-sama punya hak untuk menyuarakan keinginan, seka ligus kewajiban untuk mendengarkan. Namun, keputusan akhir tetap ada pada kita sebagai orangtua. Karena itulah kita menjadi orangtua, untuk mendidik dan membimbing anak.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *