Tujuh puluh empat ribu tahun yang lalu gunung nan megah itu memuntahkan isi perut ke segala arah dengan segenap kekuatan. Letaknya di barat Indonesia tidak menghalangi dahsyatnya letusan hingga ke benua Asia, Afrika, dan Eropa.

Menurut catatan sejarah, dampak le tus annya tidak hanya menyebabkan ke matian secara dahsyat, tetapi juga memicu kehadiran zaman es di bumi. Ribuan tahun berlalu, kawah yang terbentuk akibat letusan sang gunung menjelma menjadi danau besar nan jelita yang keindahannya mendunia, Danau Toba.

Namun, pesona danau tekto-vulkanik ini tengah meredup. Pemerintah ber ini si a tif meningkatkan pamor si danau raksasa melalui pembentukan Badan Oto rita Danau Toba. Banyak perubahan yang akan dilakukan. Bagaimana Badan Oto rita menyulap Danau Toba masa depan? Badan Otorita Danau Toba Badan Otorita Danau Toba adalah lembaga yang ditunjuk pemerintah pusat untuk mengelola kawasan Danau Toba sebagai obyek wisata dunia.

Lembaga ini bertanggung jawab langsung kepada presiden. Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Alam menjadi koordinator pembentukan Badan Otorita Danau Toba. Danau Toba membelah tujuh kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Samosir, Karo, Dairi, dan Humbang Hasundutan. Menurut Jarinsen Saragih, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kab.

Simalungun, Kelurahan Parapat yang terletak di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Simalungun, merupakan ikon Danau Toba. Sebagian perairan Danau Toba ma suk dalam tiga kecamatan di Sima lungun, seperti Kec. Dolok Perdamaian, Pematang Sidamanik, dan Girsang Sipangan Bolon.

Jarinsen menambahkan, Pemda Simalungun sangat mendukung pembentukan badan otorita karena menata kawasan Danau Toba menjadi lebih baik. Pembangunan daerah juga lebih cepat dan perekonomian daerah terangkat. Ada sembilan langkah pengembangan kawasan Danau Toba yang telah ditetapkan.

Yakni, perpanjangan landasan udara Sibisa, pembangunan tourist resort, pembangunan jalan tol Kualanamu – Parapat, pendalaman Tano PonggolDairi, pembersihan Danau Toba, penyediaan wilayah ecotourism seluas 500 ha, pembuatan Peraturan Presiden tentang badan otorita, penggalakan kampanye bersih senyum di kawasan sekitar Toba, dan promosi sejarah terbentuknya Danau Toba.

Pembenahan kawasan wisata Danau Toba dilakukan secara bertahap dengan dana awal berjumlah Rp20 triliun. Badan otorita direncanakan mengemban masa kerja 25 tahun. “Kalau masih dibutuhkan, badan otorita lanjut (beroperasi). Kalau tidak, dikembalikan ke pemda,” jelas Jarinsen. Selanjutnya Badan Otorita Danau Toba akan menangani semua kegiatan dan permasalahan yang ada di wilayah Danau Toba, seperti izin usaha pariwisata hingga perikanan.

Pariwisata Terintegrasi Di perairan Danau Toba terdapat usa ha penangkapan ikan bilih dan budidaya ikan nila dan mas menggunakan ke ramba jaring apung (KJA). Ada pula dua per usahaan besar yang memiliki usaha budidaya nila sistem KJA untuk diekspor ke Amerika dan Eropa: PT Aquafarm Nusan tara yang berlokasi di Samosir dan PT Suri Tani Pemuka (STP) di Kec. Dolok Pardamean dan Kec. Pematang Sidamanik, Simalungun. Selain itu, ulas Jarinsen, terdapat 7.000 unit KJA ikan mas dan nila milik masyarakat Simalungun.

KJA masyarakat yang sudah ada sejak 1980- an ini berukuran 2 m x 3 m. Awalnya, Rizal Ramli, Menko Maritim menyangka Aquafarm dan STP sebagai penyumbang utama limbah di Danau Toba. Karena itu, ia berencana menutup kedua perusahaan tersebut. Padahal, imbuh Jarinsen, STP hanya memiliki 183 KJA, sedangkan KJA masyarakat ribuan unit. Jika KJA perusahaan ditutup tapi masyarakat dibiarkan, hasilnya sama saja.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *